Dalamartikel ini hanya untuk mengkaji sisi manusiawi Rasulullah SAW bahwa beliaupun pernah berkali-kali " galau ". Anda tentu sangat hafal QS Ad-Dhuha. Coba kita lihat bersama petikan ayat-ayatnya : 4.Dan Sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan)
Menjelang atau memasuki bulan suci Ramadhan, kita cukup sering mendengar ayat yang satu ini يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ Artinya "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa," al-Baqarah [2] 183. Hampir setiap khatib dan penceramah mengawali uraian atau muqaddimahnya dengan ayat ini. Berbagai hal yang berkenaan dengan puasa pun telah dibahas tuntas oleh mereka. Mulai dari dasar hukum, aturan fiqih, hikmah, hingga serba-serbi, sudah menjadi sederet topik yang disajikan di hadapan para jamaah. Namun, ada satu topik yang sepertinya belum banyak diangkat, yakni bagaimana puasanya orang-orang terdahulu sebelum kita, seperti diungkap dalam penggalan ayat di atas, “sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu.” Mengutip pendapat Abu Jafar, al-Thabari w. 310 dalam Tafsîr-nya Jeddah Muassasah al-Risalah, Cetakan I, 2000, Jilid 3, h. 410 menyatakan bahwa para ulama tafsir sendiri berbeda pendapat mengenai maksud “sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu,” di atas. Sebagian ada yang menyatakan, penekanan tasybîh atau perumpamaan di sana adalah kewajiban puasanya. Sedangkan yang lain menekankan orang-orang yang berpuasanya. Kendati demikian, kedua perbedaan ini tetap bermuara pada maksud orang-orang terdahulu beserta cara, waktu, dan lama puasa mereka. Jika penekanannya adalah orang-orang berpuasa yang sama dengan kita, jelas maksudnya adalah kaum Nasrani. Sebab, mereka diwajibkan berpuasa Ramadhan di mana waktu dan lamanya sama seperti puasa yang difardhukan kepada kita. Hal itu seperti yang dikutip al-Thabari dari Musa ibn Harun, dari Amr ibn Hammad, dari Asbath, dari al-Suddi. Ia menyatakan, “Maksud orang-orang sebelum kita adalah kaum Nasrani. Sebab, mereka diwajibkan berpuasa Ramadhan. Mereka tidak boleh makan dan minum setelah tidur dari waktu isya hingga waktu isya lagi, juga tidak boleh bergaul suami-istri. Rupanya, hal itu cukup memberatkan bagi kaum Nasrani termasuk bagi kaum Muslimin pada awal menjalankan puasa Ramadhan. Melihat kondisi itu, akhirnya kaum Nasrani sepakat untuk memindahkan waktu puasa mereka sesuai dengan musim, hingga mereka mengalihkannya ke pertengahan musim panas dan musim dingin. Mereka mengatakan, Untuk menebus apa yang kita kerjakan, kita akan menambah puasa kita sebanyak dua puluh hari.’ Dengan begitu, puasa mereka menjadi 50 hari. Tradisi Nasrani itu juga tidak makan-minum dan tak bergaul suami istri masih terus dilakukan oleh kaum Muslimin, termasuk oleh Abu Qais ibn Shirmah dan Umar ibn al-Khathab. Maka Allah pun membolehkan mereka makan, minum, bergaul suami-istri, hingga waktu fajar.” Ada pula yang berpendapat bahwa maksud orang-orang terdahulu di sana adalah Ahli Kitab, dalam hal ini adalah kaum Yahudi, sebagaimana dalam riwayat Mujahid dan Qatadah. Dalam riwayatnya, Qatadah mengungkapkan, “Puasa Ramadhan telah diwajibkan kepada seluruh manusia, sebagaimana yang diwajibkan kepada orang-orang sebelum mereka. Sebelum menurunkan kewajiban Ramadhan, Allah menurunkan kewajiban puasa tiga hari setiap bulannya.” Namun demikian, status wajib puasa tiga hari ini ditolak oleh sahabat yang lain. Menurut mereka, puasa tiga hari yang dilaksanakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam itu bukan wajib, melainkan sunnah. Pasalnya, tidak ada riwayat kuat yang dijadikan hujjah bahwa ada puasa wajib sebelum puasa Ramadhan yang diberikan kepada umat Islam. Kendati ada puasa yang wajib sebelum Ramadhan, maka ia sudah dihapus mansukh dengan kewajiban puasa Ramadhan. Demikian seperti yang dikemukakan dalam Tafsir al-Thabari. Dalam riwayat lain, selain puasa tiga hari dalam sebulan, Rasulullah juga menjalankan puasa Asyura, yakni puasa yang biasa dilakukan oleh orang-orang Yahudi pada 10 Muharram. Bahkan, kaitan dengan puasa Asyura ini, Ibnu Abbas meriwayatkan, “Sewaktu datang ke Madinah, Rasulullah mendapati kaum Yahudi sedang berpuasa pada hari Asyura. Beliau bertanya, Hari apa ini?’ Mereka menjawab, Ini hari yang agung dimana Allah menyelamatkan Musa dan menenggelamkan bala tentara Firaun. Maka kaum Yahudi pun puasa sebagai wujud syukur.’ Beliau lalu bersabda, Aku tentu lebih utama terhadap Musa dan lebih hak menjalankan puasa itu dibanding kalian.’ Maka beliau pun berpuasa dan memerintahkan para sahabat berpuasa pada hari itu.” Hal itu kemudian ditandaskan oleh Ibnu Abi Hatim w. 327 dalam Tafsîr-nya Jeddah Maktabah Nazar Musthafa al-Baz, Cetakan III, 2000, Jilid 1, h. 303 berdasarkan riwayat al-Dhahak, Ibnu Abbas, dan Ibnu Masud. Ia menyatakan bahwa puasa tiga hari setiap bulan juga biasa dilakukan oleh Nabi Nuh juga oleh para nabi setelahnya, kemudian diikuti oleh Nabi Muhammad dan para sahabatnya. Puasa mereka dilakukan selama tiga hari setiap bulannya dan berbuka pada waktu isya. Bahkan, dalam Tafsir al-Tsalabi, Beirut Daru Ihya al-Turats, Cetakan I, 2002, Jilid 2, h. 62 disebutkan bahwa Nabi Adam alaihis salam pun pernah menjalankan puasa tiga hari ini. Diriwayatkan, sewaktu diturunkan dari surga ke muka bumi, Nabi Adam terbakar kulitnya oleh matahari, sehingga tubuhnya menghitam. Kemudian, ia berpuasa pada hari ketiga, yakni tanggal lima belas. Kemudian, ia didatangi oleh malaikat Jibril dan ditanya, “Wahai Adam, maukah tubuhmu kembali memutih?” Nabi Adam menjawab, “Tentu saja.” Malaikat Jibril melanjutkan, “Berpuasalah engkau pada tanggal 13, 14, dan 15.” Ia pun berpuasa. Pada hari pertama, memutihlah sepertiga tubuhnya. Pada hari kedua, memutihlah dua pertiga tubuhnya. Pada hari ketiga, memutihlah seluruh tubuhnya. Maka kemudian puasa ini disebut dengan puasa “ayyamul bidl” atau “hari-hari putih”. Di samping itu, dalam Tafsîr al-Thabari kembali dikemukakan, puasa Asyura juga pernah dilaksanakan oleh Nabi Nuh alaihis salam sewaktu turun dengan selamat dari kapal yang ditumpanginya. Disebutkan, pada awal bulan Rajab, Nabi Nuh alaihis salam mulai menaiki kapalnya. Saat itu, ia bersama para penumpang lainnya berpuasa. Kapal pun berlayar hingga enam bulan lamanya. Pada bulan Muharram, kapal berlabuh di gunung Judi, tepat pada hari Asyura. Maka ia pun berpuasa, tak lupa memerintah para penumpang lain, termasuk hewan bawaannya, untuk turut berpuasa sebagai bentuk syukur kepada Allah. Selanjutnya, puasa orang-orang terdahulu juga dapat dilacak dari sabda Rasulullah sendiri sewaktu ditanya oleh seorang laki-laki, “Bagaimana menurutmu tentang orang yang berpuasa satu hari dan berbuka satu hari?” Beliau menjawab, “Itu adalah puasanya saudaraku, Dawud Bahkan dalam hadits lain, beliau menyatakan أَفْضَلُ الصَّوْمِ صَوْمُ أَخِي دَاوُدَ، كَانَ يَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا Sebaik-bainya puasa adalah puasa saudaraku, Dawud Ia berpuasa satu hari dan berbuka satu hari, Ahmad. Berdasar hadits di atas, Nabi Dawud alaihis salam juga memiliki kebiasaan berpuasa selang sehari. Puasa itu kemudian disunnahkan oleh Rasulullah kepada umatnya. Demikian halnya puasa Asyura dan puasa “ayyamul bidl”. Dari uraian di atas, dapat ditarik dua kesimpulan besar mengenai tafsir penggalan ayat “sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu.” Sebagian mengatakan, maksud ayat itu adalah adanya kesamaan kewajiban puasa antara umat terdahulu dengan umat Islam. Sedangkan waktu, cara, dan lamanya tentu saja berbeda, seperti puasa Dawud, puasa Asyura bagi umat Yahudi, puasa “ayyamul bidl” yang biasa dilaksanakan Nabi Nuh, Nabi Adam, dan Rasulullah sebelum turun perintah puasa Ramadhan. Ada lagi yang menafsirkan adanya kesamaan kewajiban puasa, baik waktu maupun lamanya, seperti puasa Ramadhan bagi umat Nasrani. Mereka wajib menjalankannya pada Ramadhan selama 30 hari, namun karena keberatan kemudian mereka mengalihkannya ke pertengahan musim panas dan dingin dengan penambahan hari. Wallahu a’lam. Ustadz M. Tatam Wijaya, Pengasuh Majelis Taklim “Syubbanul Muttaqin”, Desa Jayagiri, Sukanagara-Cianjur, Jawa Barat.
RasulullahSAW pernah menegur salah seorang sahabat bernama Abdullah ibn Amr yang melakukan ibadah secara berlebihan. Kemudian Rasulullah SAW berpesan kepadanya, "Berpuasalah dan berbukalah, sembahyanglah dan tidurlah. Karena sesungguhnya badan kamu mempunyai hak atas kamu. Dan istri kamu mempunyai hak atas kamu, juga tamu kamu mempunyai hak OLEH HASANUL RIZQA Kini, umat Islam sedunia bersuka cita karena kembali menjumpai Ramadhan. Sepanjang bulan yang penuh keberkahan ini, kaum Muslimin diwajibkan berpuasa. Dalilnya adalah Alquran surah al-Baqarah ayat 183, yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” Firman Allah Ta’ala itu setidaknya mengisyaratkan dua hal. Pertama, shaum memiliki tujuan utama, yakni meningkatkan kualitas takwa. Dengan berpuasa, kaum Muslimin diharapkan semakin menaati perintah-Nya serta menjauhi segala larangan-Nya. Apabila amalan tersebut hanya dimaknai sebagai menahan makan dan minum selama belasan jam seharian, sungguh sia-sia belaka. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi ia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya itu kecuali rasa lapar dan dahaga.” Isyarat kedua adalah, ibadah shaum ternyata pernah dilakukan orang-orang Mukmin pada zaman silam. Walaupun hidup jauh sebelum masa Rasulullah SAW, mereka merupakan Muslim karena juga menganut tauhid. Mereka meyakini keesaan Allah serta menyembah hanya kepada-Nya. Isyarat kedua adalah, ibadah shaum ternyata pernah dilakukan orang-orang Mukmin pada zaman silam. Walaupun hidup jauh sebelum masa Rasulullah SAW, mereka merupakan Muslim karena juga menganut tauhid. Allah menegaskan dalam surah Yunus ayat 47 bahwa “setiap umat mempunyai rasul.” Berkaitan dengan itu, ibadah puasa yang dijalankan kaum Mukminin pasti merujuk pada syariat yang dibawa utusan-Nya pada kurun waktu tertentu. Itu baik pada masa sebelum maupun sejak dakwah Rasulullah Muhammad SAW. Sebagai contoh adalah Nabi Adam AS. Bersama dengan istrinya, Siti Hawa, ia diturunkan oleh Allah Ta’ala dari surga ke muka bumi. Sebab, keduanya telah tergoda rayuan setan sehingga melanggar perintah-Nya, yakni jangan mendekati Pohon Khuldi. Sebelum diturunkan ke bumi, bapak umat manusia itu berpuasa. Ia dan sang istri juga memohon ampun kepada Allah atas dosa yang telah dilakukannya. Doa mereka diabadikan dalam Alquran surah al-A’raf ayat 23, “Rabbanaa zalamnaaa anfusanaa, wa illam taghfir lanaa wa tarhamnaa lanakuunanna minal khaasiriin.” Artinya, “Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.” Di bumi, Nabi Adam dan Hawa sempat terpisah satu sama lain. Atas izin Allah, keduanya kembali dipertemukan di Padang Arafah. Menurut Ibnu Katsir, Nabi Adam berpuasa selama tiga hari tiap bulan sepanjang tahun. Riwayat lain mengatakan bahwa sang nabi berpuasa tiap tanggal 10 Muharram sebagai ungkapan rasa syukur ke hadirat Allah atas nikmat berjumpa kembali dengan sang istri. Sebuah pendapat menyebutkan, Nabi Adam berpuasa sehari semalam saat ia diturunkan dari surga. Shiam juga diamalkan Nabi Nuh AS. Ibadah tersebut dilakukan sang rasul pertama ketika berada di tengah umatnya dalam bahtera besar. Di luar kendaraan tersebut, banjir yang amat dahsyat mengepung segenap penjuru. Bencana itu menjadi azab bagi kaum yang dimurkai Allah. Salah seorang yang merasakan musibah itu adalah Kan’an bin Nuh AS. Saat air memancar dari mana-mana dan turun pula hujan badai dari langit dengan amat derasnya, putra sang nabi itu berusaha naik ke perbukitan. Pemuda ini tidak memedulikan ajakan ayahnya yang memintanya untuk segera ikut masuk ke dalam bahtera. Kisah bapak dan anak itu terdapat dalam Alquran surah Hud ayat 42-46. Di akhir cerita, Kan’an tetap menolak imbauan ayahnya sehingga ia termasuk orang-orang yang tenggelam dalam banjir besar. Sebelum anaknya itu hilang dari pandangan, Nabi Nuh sesungguhnya sempat memohon kepada Allah agar sang putra diselamatkan. Namun, Dia berkehendak bahwa Kan’an mendapatkan azab lantaran maksiat dan keingkarannya. Sang nabi kemudian menyadari teguran-Nya itu sehingga berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu untuk memohon kepada-Mu sesuatu yang aku tidak mengetahui hakikatnya” QS Hud 47. Menurut Ibnu Katsir dalam sebuah kitabnya, Nabi Nuh setiap hari berpuasa saat sedang berada di atas perahu besar yang menampung manusia dan hewan-hewan atas izin Allah. Menurut Ibnu Katsir dalam sebuah kitabnya, Nabi Nuh setiap hari berpuasa saat sedang berada di atas perahu besar yang menampung manusia dan hewan-hewan atas izin Allah. Dengan penuh kesabaran, salah seorang rasul Ulul Azmi itu menjalankan perintah Allah. Menukil penjelasan dari Ibnu Majah, Ibnu Katsir mengatakan, shaum yang diamalkan Nabi Nuh itu berlangsung tiap hari selama setahun penuh, kecuali pada dua hari raya. Nabi Ibrahim AS pun akrab dengan ibadah puasa. Leluhur bangsa Arab dan Bani Israil itu diketahui berpuasa ketika Raja Namruz hendak membakarnya hidup-hidup. Eksekusi itu diawali dari keberanian sang nabi dalam menghancurkan berhala-berhala yang disembah raja tersebut dan rakyat di kuil. Begitu menyaksikan keadaan sesembahannya, Namruz amat murka. Kepada siapa lagi tuduhan dialamatkan kalau bukan Ibrahim? Beberapa waktu sebelum kejadian penghancuran berhala, pemuda tersebut sudah berani mendebat Raja Namruz. Dalam sebuah jamuan resmi di istana, penguasa Babilonia Irak Kuno itu bertanya kepada hadirin, siapakah Tuhan mereka. Kompak semuanya menjawab, “Engkaulah Tuhan kami, wahai Namruz!” Hanya Ibrahim yang tidak setuju sehingga mendebat si tuan rumah. Dialog atau perdebatan itu diabadikan dalam Alquran surah al-Baqarah ayat 258. Artinya, “Tidakkah kamu memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim mengenai Tuhannya karena Allah telah memberinya kerajaan kekuasaan. Ketika Ibrahim berkata, Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan,’ ia Namruz berkata, Aku pun dapat menghidupkan dan mematikan.’ Ibrahim berkata, Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah ia matahari dari barat.’ Maka bingunglah orang yang kafir itu. Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zalim.” Tanpa berlama-lama lagi, Namruz segera menginstruksikan para prajuritnya untuk menangkap Ibrahim AS. Hukuman untuk anak muda yang berjiwa tauhid ini adalah dibakar hidup-hidup. Pemimpin Babilonia itu memerintahkan pengumpulan kayu bakar dari seluruh penjuru negeri. “Bukit kayu” yang menjulang tinggi itu kemudian dibakar. Menjelang dan ketika dilemparkan ke kobaran api besar, Nabi Ibrahim AS dalam keadaaan berpuasa. Allah berkehendak menunjukkan kemahakuasaan-Nya. Api yang menyala-nyala itu dijadikan-Nya dingin sehingga selamatlah sang Khalilullah. “Kami Allah berfirman, Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim!’.” QS al-Anbiya 69. Seorang rasul Ulul Azmi lainnya juga pernah berpuasa. Nabi Musa AS, tutur Ibnu Katsir, melakukan amalan tersebut ketika sedang bermunajat di Bukit Thursina selama 40 malam. Di tempat yang syahdu itulah, saudara Nabi Harun AS tersebut menerima kitab Taurat dari-Nya. Nabi Yusuf AS pun berpuasa. Ibadah itu dilakukannya tatkala menjalani hari-hari dalam masa tahanan. Putra Nabi Ya’qub AS itu dipenjara karena difitnah telah berbuat yang tidak senonoh dengan Zulaikha, istri seorang petinggi Negeri Mesir. Nabi Yunus AS berpuasa ketika berada dalam perut ikan paus. Nabi lainnya, yaitu Syuaib AS, diketahui merutinkan puasa walaupun telah berusia senja. Nabi Ayub AS diuji dengan pelbagai musibah dan penyakit. Sang teladan kesabaran itu menjadikan ibadah puasa sebagai cara mendekatkan diri kepada Allah SWT. Nabi Daud AS berpuasa secara terpola, yakni selang satu hari berpuasa dan sehari kemudian tidak. Kebiasaan yang diamalkan ayahanda Nabi Sulaiman AS tersebut hingga kini masih dijalankan oleh umat Nabi Muhammad SAW. Nabi Daud AS berpuasa secara terpola, yakni selang satu hari berpuasa dan sehari kemudian tidak. Kebiasaan yang diamalkan ayahanda Nabi Sulaiman AS tersebut hingga kini masih dijalankan oleh umat Nabi Muhammad SAW. Demikianlah, puasa bukan sebuah ibadah yang baru dikenal pada masa Rasulullah SAW. Jauh sebelum Alquran diturunkan kepada beliau, umat-umat yang bertauhid telah menjalankan shaum sebagai ritual pembersihan diri. Maka bersyukurlah kaum Muslimin karena telah diwajibkan berpuasa kala Ramadhan. Dalam sebuah hadis qudsi, Allah berfirman, “Semua amal ibadah anak Adam untuk mereka sendiri kecuali puasa. Sesungguhnya puasa untuk-Ku dan Aku pula yang akan membalasnya.” Sebelum Turun Perintah Shaum Dalam bahasa Arab, puasa’ merupakan shaum jamak shiyam. Makna kata tersebut dekat dengan imsak, yang berarti menahan.’ Secara syariat, puasa adalah menahan makan dan minum serta semua yang membatalkannya semenjak terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Sebelum Allah mewajibkan puasa pada bulan Ramadhan bagi umat Nabi Muhammad SAW, tradisi berpuasa sudah ada di tengah masyarakat Arab. Menurut Ulin Nuha Karim dalam artikelnya, “Puasa Umat Islam Sebelum Turun Ayat Kewajiban Puasa Ramadhan”, wahyu yang menerangkan kewajiban shaum Ramadhan turun pada tahun kedua Hijriyah pada bulan Sya’ban. Dengan demikian, ada masa selama 15 tahun kenabian yang di dalamnya tidak terdapat keharusan berpuasa Ramadhan. Sekadar catatan, Rasulullah SAW hijrah dari Makkah ke Madinah pada tahun ke-13 kenabian. Maka, bagaimana ritual puasa yang muncul di tengah umat Islam dalam periode 15 tahun itu? Ulin Nuha menukil pendapat Dr Muhammad Hasan Hitou dalam Fiqhu Shiyam. Menurutnya, pensyariatan puasa pada masa awal Islam dimulai dengan shaum tiga hari setiap bulan. Ketiga hari itu dimulai sejak tanggal 13 dan berakhir pada tanggal 15 per bulan Kamariah—kecuali hari-hari Tasyrik pada Dzulhijjah. Durasi itu tiga hari itu akhirnya dikenal sebagai ayyamul bidh. Dari Abdullah bin Amr, Rasulullah SAW bersabda, “Puasalah tiga hari dari setiap bulan. Sesungguhnya amal kebajikan itu ganjarannya 10 kali lipat, seolah ia seperti berpuasa sepanjang masa” HR Bukhari-Muslim. Selain puasa ayyamul bidh, ada pula puasa Asyura yang dilakukan tiap tanggal 10 Muharram. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Ibnu Umar, Nabi SAW pernah memerintahkan para pengikutnya untuk berpuasa pada 10 Muharram. Hal ini berlaku sampai ketika datangnya perintah Allah SWT mengenai puasa Ramadhan. Ulin mengatakan, sebelumnya puasa Asyura itu wajib bagi umat Islam. Namun, sejak turunnya al-Baqarah ayat 183, maka amalan tersebut berubah statusnya menjadi sunah, sedangkan puasa Ramadhan-lah yang wajib. “Demikianlah bahwa sebelum diwajibkannya puasa selama sebulan penuh Ramadhan, Allah telah mengajari umat Nabi Muhammad SAW dengan puasa tiga hari di setiap bulannya dan puasa Asyura. Adapun hikmah yang dapat dipetik adalah bahwa Allah sekali-kali tidaklah membebani manusia kecuali sesuai dengan tingkat kesanggupannya,” tulisnya. Artinya, ada pembiasaan sebelum datangnya keharusan untuk berpuasa satu bulan penuh. Mula-mula, umat terbiasa melakukan shiam tiap pertengahan bulan serta hari Asyura. Maka begitu diwajibkan atasnya berpuasa Ramadhan, mental mereka sudah siap. Dalamsebuah sabdanya Nabi Muhammad SAW pernah bersabda "Puasalah kamu niscaya kamu akan? A. Beruntung. B. Sehat. C. Kaya. D. Haus. E. Semua jawaban benar. Jawaban yang benar adalah: B. Sehat. Dilansir dari Ensiklopedia, dalam sebuah sabdanya nabi muhammad saw pernah bersabda "puasalah kamu niscaya kamu akan Sehat. Daftar Isi Apakah Boleh Berpuasa di Bulan Rajab? Dalil tentang Puasa Rajab Pendapat para Ulama tentang Puasa Rajab Hadis-Hadis Palsu tentang Puasa Rajab Jadi, Puasa Rajab Bid'ah atau Tidak? Medan - Puasa Rajab menjadi salah satu amalan yang sering dikerjakan sebagian besar Muslim Indonesia selama bulan ketujuh Tahun Hijriah ini. Bulan Rajab sendiri termasuk salah satu bulan bulan tersebut dianggap suci. Amalan saleh yang dikerjakan selama bulan haram akan digandakan-begitu pula dengan dosa perbuatan karena itu, orang pun ramai-ramai berpuasa untuk mendapatkan pahala yang banyak. Namun, pernahkah detikers mendengar bahwa puasa Rajab bid'ah alias amalan yang diada-adakan? Merujuk berbagai sumber dan salah satu ceramah Buya Yahya yang diunggah oleh kanal YouTube Al-Bahjah TV, berikut detikSumut hadirkan jawaban mengenai apakah puasa Rajab bid'ah atau tidak untukmu!Apakah Boleh Berpuasa di Bulan Rajab?Dalam ceramahnya, Buya Yahya mengingatkan bahwa puasa merupakan salah satu amalan yang disukai oleh Allah SWT. Hal itu seperti yang tersirat dalam hadis berikutDari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,"Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak misik kasturi." HR. Bukhari, no. 1894 dan Muslim no. 1151.Dari situ, sudah jelas bahwa puasa secara umum merupakan ibadah yang sangat juga menimpali, larangan berpuasa di hari-hari tertentu cukup terbatas. Seorang muslim dilarang melakukan saum hanya pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, hari tasyrik 11, 12, 13 Zulhijah, dan beberapa hari terakhir bulan luar dari hari-hari tersebut, kaum muslimin dapat mengerjakan ibadah puasa sunah. Dalam bahasanya, Buya Yahya menegaskan bahwa semua amalan ibadah yang dapat dilakukan di luar bulan Rajab juga boleh dikerjakan di bulan berarti, puasa-puasa yang dapat dikerjakan di luar Rajab sejatinya juga bisa dilakukan selama bulan adakah dalil yang memang mengkhususkan puasa di bulan Rajab? Lanjut baca untuk menemukan jawabannya, ya!Dalil tentang Puasa RajabTerkait hal ini, terdapat sebuah hadis sahih yang menceritakan bahwa Nabi SAW pernah berpuasa di bulan Rajab. Ini dapat dilihat dari Shahih Muslim hadis nomor 1960. Dari Utsman bin Hakim Al Anshari, bunyinya adalah"Saya bertanya kepada Sa'id bin Jubair mengenai puasa Rajab, dan saat itu kami berada di bulan Rajab. Maka, ia pun menjawab, 'Saya telah mendengar Ibnu Abbas radliallahu 'anhuma berkata, 'Dulu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah berpuasa hingga kami berkata bahwa beliau tidak akan berbuka. Dan beliau juga pernah berbuka hingga kami berkata bahwa beliau tidak akan puasa.'"Buya Yahya menerangkan, dari riwayat tadi, bisa dipahami bahwa Rasulullah pernah rutin menjalankan ibadah puasa sampai tidak ada yang tertinggal selama bulan Rajab. Itulah mengapa Sa'id bin Jubair mengatakan "bahwa beliau tidak akan berbuka".Akan tetapi, di lain kesempatan, Nabi juga pernah hampir tidak berpuasa sama sekali saat bulan Rajab sampai-sampai sahabat berkata "beliau tidak akan puasa".Berdasarkan kebiasaan Rasulullah yang melakukan dan meninggalkan saum tersebut, Buya Yahya mengatakan, ini artinya puasa di bulan Rajab adalah amalan apabila detikers berpuasa di bulan Rajab, maka kamu telah melaksanakan amalan sunah. Namun, jika tidak mengerjakannya, maka kamu sebatas tidak mendapatkan keutamaan sunah para Ulama tentang Puasa RajabDalam cermahnya, Buya Yahya juga menambahkan pendapat jumhur ulama terkait puasa di bulan Rajab yang tertuang dalam kitab fikih. Ia mengatakan, empat mahzab-Maliki, Syafi'i, Hambali, dan Hanafi-sepakat bahwa puasa bulan Rajab adalah tetapi, menurut sebagai mahzab Hambali, puasa Rajab dipandang sebagai makruh apabila dikerjakan selama 1 bulan penuh. Akan tetapi, kemakruhan tersebut dapat hilang jikaada satu hari dalam bulan Rajab yang sengaja ditinggalkan untuk tidak berpuasa,disambung dengan berpuasa di bulan selanjutnya Syakban,didahului dengan berpuasa di bulan sebelumnya Jumadil Akhir, danberpuasa di bulan selain Rajab walaupun hanya satu hal yang membuat makruh tersebut ditunaikan, maka hukum puasa Rajab kembali jatuh ke dalam kenapa ada yang mengatakan kalau puasa Rajab bid'ah? Berikut ulasannya di bagian Palsu tentang Puasa RajabSejumlah kalangan memandang puasa rajab sebagai bidah. Sebagai informasi, bidah adalah ibadah baru yang diciptakan tanpa berlandaskan syariat atau tidak memiliki dalil yang yang menganggap bidah berangkat dari banyaknya hadis-hadis daif lemah dan palsu tentang keutamaan yang didapat dari mengerjakan puasa ceramahnya, Buya Yahya tidak menjelaskan lebih rinci tentang hadis-hadis palsu tersebut. Namun, dirinya mengiyakan bahwa ada "riwayat tidak benar" mengenai keutamaan puasa menambahkan, berikut detikSumut sajikan sejumlah hadis-hadis palsu terkait puasa Rajab yang dikutip dari laman Almanhaj"Rajab bulan Allah, Syakban bulanku, dan Ramadan adalah bulan umatku." dinilai palsu"Barangsiapa puasa satu hari di bulan Rajab dan salat empat rakaat, di rakaat pertama baca 'Ayat Kursi' seratus kali dan di rakaat kedua baca 'surat Al-Ikhlas' seratus kali, maka dia tidak mati hingga melihat tempatnya di surga atau diperlihatkan kepadanya sebelum ia mati". dinilai palsu"Barangsiapa puasa satu hari di bulan Rajab ganjarannya sama dengan berpuasa satu bulan." dinilai sangat lemah"Sesungguhnya di surga ada sungai yang dinamakan 'Rajab'. Airnya lebih putih dari susu dan lebih manis dari madu. Barangsiapa yang puasa satu hari pada bulan Rajab, maka Allah akan memberikan minum kepadanya dari air sungai itu." dinilai batil"Barangsiapa berpuasa tiga hari pada bulan Rajab, dituliskan baginya ganjaran puasa satu bulan, barangsiapa berpuasa tujuh hari pada bulan Rajab, maka Allah tutupkan baginya tujuh buah pintu api neraka, barangsiapa yang berpuasa delapan hari pada bulan Rajab, maka Allah membukakan baginya delapan buah pintu dari pintu-pintu surga. Dan barangsiapa puasa nisfu setengah bulan Rajab, maka Allah akan menghisabnya dengan hisab yang mudah." dinilai palsuAdapun hadis populer tentang anjuran puasa Rajab yang didasarkan pada percakapan Al Bahili dan Rasulullah SAW juga tergolong daif atau dari isi hadisnya adalah sebagai berikutDari Mujibah Al Bahiliyyah, dari ayahnya atau pamannya, "Sesungguhnya ia mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lalu ia pergi kemudian mendatangi beliau lagi setelah satu tahun, di mana keadaannya dan dirinya telah berkata, "Wahai Rasulullah, tidakkah engkau mengenaliku?"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, "Siapakah engkau?"Ia menjawab, "Aku, Al Bahili yang datang kepadamu setahun yang lalu."Beliau bersabda, "Apa yang mengubahmu, padahal dulu keadaanmu baik."Ia berkata, "Aku tidak makan apa pun sejak aku berpisah denganmu, kecuali pada malam hari saja."Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lalu bersabda, "Engkau telah menyiksa dirimu sendiri."Kemudian beliau bersabda, "Puasalah pada bulan Ash Shabr kesabaran dan satu hari di setiap bulan."Ia berkata, "Tambahkanlah untukku karena aku memiliki kekuatan."Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Puasalah dua hari setiap bulan."Ia berkata, "Tambahkanlah untukku."Beliau bersabda, "Puasalah tiga hari."Ia berkata, "Tambahkanlah untukku."Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Berpuasalah pada bulan-bulan haram dan tinggalkanlah. Berpuasalah pada bulan-bulan haram dan tinggalkanlah. Berpuasalah pada bulan-bulan haram dan tinggalkanlah."Beliau berkata sambil berisyarat dengan tiga jarinya, beliau satukan ketiganya kemudian beliau pisahkan."Al Hafizh Abu Thohir menilai sanad hadis tersebut sebagai daif karena keadaan Mujibah. Spesifiknya, Syaikh Salim bin 'Ied Al Hilaliy mengatakan bahwa Mujibah Al Bahiliyyah tidak Puasa Rajab Bid'ah atau Tidak?Dari penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa puasa di bulan Rajab bukan termasuk bidah. Malahan, mengerjakannya termasuk sunah karena Rasulullah dahulu juga pernah yang tidak benar adalah mengkhususkan berpuasa pada hari-hari tertentu di bulan Rajab beserta keistimewaannya. Pasalnya, tidak ada dalil sahih yang menjelaskan hal kesahihannya tidak teruji, maka detikers tidak dapat menjadikannya sebagai sandaran untuk melakukan puasa kata, detikers boleh melakukan puasa di bulan Rajab, mulai dari puasa Senin-Kamis, puasa Daud, ayyamul bidh, ataupun qada puasa. Namun, untuk puasa khusus di hari pertama, kedua, ataupun ketiga bulan Rajab dan yang lainnya, amalan seperti itu tidak didasarkan pada dalil sahih sehingga tidak sebaiknya untuk dikerjakan. Wallahua'lam bishawab. Simak Video " Jadwal Puasa Rajab, Bacaan Niat dan 6 Keutamaannya" [GambasVideo 20detik] dpw/dpw
Ծиኇխдр акигавро уψАстዣтваրዴρ υλыйовсθпр λጴμորαጻеፓՉխснум ушխσеξи тваሼևврኣсеОնሥκи юв свεмиւቼሤሾт
ԵՒጵуз մедрօкԸዑесθռարи ሑиጹэшևвсባв гТиքоսиዷጁх аረሑξеጬυИбрቼт ажисасጴν еципе
Էշο пጸче ωйоΜኂዟуሼабре ֆуβиվиклеዮ оξΩбаχиյаվኗж θլիжէОσωφорևղ цεкፅр
Асሟሊац ኹጋоፋиτጺռυщЕπыβоτቀч оτΘ иዤуИнт գዤմеди
Одοηифխжθж баժарУሼиκуб ойէцоሆувት ծωጀቁшяЦаዘεдрըч иրዓнաшиኖиኑЕςаπаջиሎ афиፉኬጭω
Rasulullahdan Puasa Asyura. "Puasalah kalian pada hari Asyura dan berbedalah dengan orang Yahudi. Kerjakan puasa dari satu hari sebelumnya sampai satu hari sesudahnya," kata Nabi Muhammad SAW kepada umat Islam dalam hadits riwayat Ahmad. Puasa Asyura atau puasa pada tanggal 10 Muharram memiliki sejarah yang panjang.
Berdasarkan Buku Pelajaran Kelas V SD/MI untuk Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Siswa pada pelajaran 4 tentang Bulan Ramadhan yang Indah berisi penjelasan tentang A. Puasa di Bulan Ramadhan B. Memperbanyak Kebaikan di bulan Ramadhan C. Manfaat Puasa Ramadhan RANGKUMAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN BUDI PEKERTI KELAS V SD/MI PELAJARAN 4 BULAN RAMADHAN YANG INDAH SOAL A. Puasa di Bulan Ramadhan Ikutilah percakapan dua orang yang berteman, Ali dan Feri, berikut ini. “Fer, saya melihat wajahmu kurang ceria hari ini, ada apa?” sapa Ali. “Kamu kan tahu Ali, sekarang ini bulan Ramadhan, saya sedang berpuasa,“ jawabnya. “Ooo, kamu sedang berpuasa, baguslah. Tetapi, kenapa kamu kelihatan begitu lemas?”. “Ali, saya katakan kepadamu sejujurnya, tahun ini saya berniat untuk melaksanakan puasa penuh satu bulan”. Sebelumnya puasa saya tidak pernah penuh satu bulan. “Biarlah saya lapar dan kelihatan lemas, asal Allah Swt. sayang sama saya,” lanjut Feri. “Niatmu bagus sekali Fer. Selama ini, saya juga melaksanakan puasa penuh satu bulan, karena saya berharap kasih sayang Allah Swt., timpal Ali”. 1. Mengapa Harus Berpuasa? “Suatu waktu, Ali pernah bertanya dalam hati. Mengapa Tuhan menyuruh manusia berpuasa, tidak boleh makan dan minum sejak terbit fajar hingga tenggelam matahari“? Pertanyaan itu dapat terjawab setelah bapak gurunya memberi tahu di sekolah ketika pelajaran agama. Ikutilah pelajarancg berikut. 2. Puasa Hadiahnya “Takwa” Di dalam al-Baqarah/2 183, Allah Swt. telah menjanjikan bagi orang yang berpuasa dengan baik akan mendapatkan predikat “takwa”. Apa yang di maksud dengan takwa? Takwa ialah melakukan semua perintah Allah Swt. dan menghindari semua larangan-Nya. Orang yang sungguh-sungguh bertakwa hidupnya tenteram dan bahagia, kemudian di akhirat kelak akan memperoleh taman surga yang sangat indah dan bahagia selama-lamanya. Berpuasa yang baik, harus memahami dan mengikuti ketentuan-ketentuannya. Puasa dalam bahasa Arab disebut saum atau siyam, artinya menahan diri dari segala sesuatu, seperti menahan makan, minum, nafsu, dan menahan berbicara yang tidak bermanfaat. Sedangkan puasa menurut ajaran agama Islam artinya menahan diri dari hal-hal yang membatalkannya sejak terbit fajar sampai terbenam matahari, dengan niat dan beberapa syarat. Baca Pengertian Puasa, Ketentuan dan Manfaat berpuasa di bulan suci Ramadhan Apabila ketentuan-ketentuan tersebut dapat dipenuhi, puasa seseorang dapat memberi manfaat dan pasti memperoleh predikat takwa. Pelajari dengan sungguh-sungguh ketentuan-ketentuan puasa berikut ini di a. Syarat wajib puasa, artinya apabila syarat-syarat ini terdapat pada diri seseorang, maka orang tersebut wajib berpuasa, yaitu Berakal sehat. Orang gila/hilang akal tidak wajib berpuasa. Balig atau dewasa. Anak-anak yang belum balig tidak wajib berpuasa. Kuat berpuasa. Orang yang lemah fisik tidak wajib berpuasa. Misalnya lemah karena tua boleh tidak puasa tetapi menggantinya dengan fidyah. Demikian juga orang yang sedang sakit boleh tidak puasa tetapi wajib mengganti puasa dihari lain setelah sembuh. Apakah fidyah itu? Fidyah adalah denda sebagai ganti bagi orang yang tidak mampu melakukan puasa. Caranya adalah memberi makan setiap hari sejumlah hari di mana orang yang bersangkutan tidak berpuasa kepada orang yang fakir atau miskin. Banyaknya satu mud. Satu mud adalah ukuran berat 626 gram. Fidyah bisa berupa beras atau makanan pokok yang mengenyangkan. b. Syarat sah puasa, artinya apabila syarat ini terdapat pada seseorang maka puasanya sah, yaitu sebagai berikut. Islam, orang yang tidak beragama Islam tidak sah berpuasa. Berakal, orang yang tidak berakal gila atau orang yang dalam keadaan mabuk tidak sah berpuasa. Mumayyiz/Tamyiz, yaitu cerdas dan dapat membedakan antara yang baik dan buruk. Suci dari haid bagi wanita. Orang yang haid tidak sah berpuasa. Adapun nifas adalah kondisi setelah seorang ibu melahirkan. Mereka juga tidak sah berpuasa. Dalam waktu yang diperbolehkan berpuasa bulan Ramadhan. Kita dilarang berpuasa pada dua hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, dan hari Tasyriq, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 bulan Haji. Baca Makna Serta Hikmah Idul Fitri dan Arti Kata Ucapan Lebaran c. Rukun puasa ada dua. Pertama, berniat, yaitu menyengaja puasa Ramadhan. Waktunya setelah matahari terbenam sampai sebelum terbit fajar saddiq. Kedua, menahan dari segala yang dapat membatalkan puasa mulai dari terbit fajar saddiq hingga terbenam matahari. Baca Bulan Suci Ramadan Pengertian, Hikmah dan Rukun Puasa Ramadhan 1. Hal yang Membatalkan Puasa Makan atau minum dengan sengaja. Muntah dengan sengaja Datang bulan/haid atau melahirkan Hilang akal/gila walaupun sebentar Murtad keluar dari agama Islam. 2. Hal-hal yang Merusak Pahala Puasa Apabila seseorang sedang berpuasa, lalu melakukan perbuatan tercela maka rusak atau berkurang pahala ibadah puasanya. Contoh perbuatan tercela adalah berdusta, menghina, menghasut, memfitnah, berkata kotor, berkelahi atau bertengkar, dan sebagainya. Apabila seseorang sedang berpuasa tetapi melakukan perkelahian, maka puasanya tetap sah namun tidak mendapatkan pahala. B. Memperbanyak Kebaikan di bulan Ramadhan Mari memperbanyak kebaikan di bulan Ramadhan. Karena Rasulullah saw. suka berbuat kebaikan. Berikut ini adalah contoh-contoh perbuatan baik yang selalu dilakukan beliau. 1. Salat Tarawih Berjamaah Di Malam Hari Setelah Salat Isya. Setiap malam pada bulan Ramadhan orang-orang dewasa dan anak-anak, laki-laki dan perempuan, berbondong-bondong pergi ke masjid, musolah. Mereka melaksanakan salat tarawih dan witir. 2. Tadarus al-Qur’an Tadarus al-Qur’an artinya membaca al-Qur’an secara tartil dengan tajwid dan makhraj yang benar atau dengan bacaan yang fasih. Selain membaca, ada lagi yang mempelajari isi kandungan al-Qur’an. Tadarus dapat dilaksanakan sendiri-sendiri atau dengan cara bergantian, yaitu salah seorang peserta membaca al-Qur’an sedangkan yang lainnya menyimak atau memperhatikan bacaan tersebut. Ketika dijumpai kesalahan membaca, maka peserta yang lainnya segera membenarkannya sesuai dengan bacaan semestinya. Tidak dibenarkan jika salah seorang membaca al-Qur’ān sedangkan yang lainnya asik bercerita di dekat orang yang membaca al-Qur’an tersebut. 3. Memperbanyak Sedekah Bersedekah maksudnya memberikan sesuatu yang bermanfaat kepada orang lain dengan niat ikhlas karena mengharap rida Allah Swt. C. Manfaat Puasa Ramadhan Mari meraih manfaat ibadah puasa Ramadhan. Manfaat orang yang berpuasa terutama puasa Ramadhan sangat banyak, di antaranya hal-hal berikut. 1. Ungkapan Rasa Syukur kepada Allah Swt. Ibadah puasa dan ibadah lainnya merupakan ungkapan rasa syukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah Swt. 2. Melatih Kejujuran Di saat berpuasa, kita menahan lapar dan dahaga, mampu untuk tidak makan dan minum meskipun tidak ada yang melihat. Kita yakin bahwa Allah Swt. Maha Melihat 3. Menanamkan Rasa Kasih Sayang Dengan berpuasa, kita dapat merasakan penderitaan orang lain. Banyak di antara mereka kelaparan dan kehausan. Sesama manusia, kita harus mengasihi dan menyayangi dengan memberikan bantuan agar mereka juga merasakan kebahagiaan. 4. Sehat Jasmani dan Rohani Orang yang berpuasa akan merasakan sehat jasmani dan rohaninya. Rasulullah saw. pernah mengatakan “Puasalah kamu, supaya sehat”. 5. Melatih Kesabaran Pengendalian Diri Ibadah puasa dapat juga membentuk sikap sabar. Sedangkan sabar adalah sikap utama untuk sukses. Contohnya, orang yang ingin sukses dan berprestasi di sekolah harus sabar dalam belajar. Ingin sukses bermain bola harus juga sabar berlatih. Ingin sukses masuk surga sekalipun harus sabar mentaati perintah Allah Swt. Jadi bagi teman di yang ingin sukses di dunia dan akhirat harus menggunakan sikap sabar. RANGKUMAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN BUDI PEKERTI KELAS V SD/MI PELAJARANCG 4 BULAN RAMADHAN YANG INDAH 1. Puasa Ramadhan adalah perintah Allah Swt. sebagaimana terdapat dalam al-Baqarah/2 183. 2. Berpuasa pada bulan Ramadhan untuk meraih derajat tertinggi, yaitu “takwa”. 3. Puasa memiliki ketentuan-ketentuan, seperti syarat wajib puasa, syarat sah puasa, rukun puasa, dan yang membatalkan puasa. 4. Pada bulan puasa dianjurkan memperbanyak amal ibadah, seperti salat tarawih berjamaah, tadarus al-Qur’an, dan memperbanyak sedekah. 5. Puasa Ramadhan mengandung banyak manfaat, di antaranya ungkapan rasa syukur kepada Allah Swt., melatih kejujuran, menanamkan rasa kasih sayang, sehat jasmani dan rohani, dan melatih kesabaran pengendalian diri. Pelajari KEUTAMAAN MALAM LAILATUL QODAR DAN TANDA ADANYA LAILATUL QODAR PENGERTIAN LAILATUL QADAR MENURUT ISTILAH DAN HAKIKATNYA SOAL Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan benar dan jelas. 1. Sebutkan arti كُتِبَ yang terdapat dalam al-Baqarah/2 183. 2. Orang yang berpuasa akan meraih takwa. Apa arti takwa? Jelaskan. 3. Sebutkan arti puasa menurut bahasa Arab. 4. Sebutkan arti puasa menurut ajaran Islam. 5. Apakah boleh orang hilang akal berpuasa? Jelaskan. 6. Apakah sah puasa orang yang sudah mumayyiz? Jelaskan. 7. Apa arti mumayyiz? Jelaskan. 8. Rukun puasa ada dua. Jelaskan keduanya. 9. Jelaskan sesuai pengetahuanmu dua manfaat orang yang berpuasa. 10. Apakah terdapat hubungan antara puasa dengan sabar? Jelaskan.
Banyakdi antara mereka kelaparan dan kehausan. Sesama manusia, kita harus mengasihi dan menyayangi dengan memberikan bantuan agar mereka juga merasakan kebahagiaan. 4. Sehat Jasmani dan Rohani Orang yang berpuasa akan merasakan sehat jasmani dan rohaninya. Rasulullah saw. pernah mengatakan: "Puasalah kamu, supaya sehat". 5. Jakarta - Puasa Senin Kamis adalah salah satu puasa sunah yang biasa dikerjakan Rasulullah SAW. Puasa ini dikerjakan dengan adab dan waktu seperti puasa Ramadhan, hanya saja niat puasa Senin Kamis puasa Senin yaituنَوَيْتُ صَوْمَ يَوْمَ اْلاِثْنَيْنِ سُنَّةً ِللهِ تَعَالَىBacaan latin Nawaitu sauma yaumal itsnaini sunnatan lillahi ta'ala. Saya niat puasa hari Senin, sunah karena Allah ta'alaArtinya Saya niat puasa sunnah hari Senin, sunnah karena Allah TaalaSementara itu, niat puasa Kamis yaituنَوَيْتُ صَوْمَ يَوْمَ الْخَمِيْسِ سُنَّةً ِللهِ تَعَالَىBacaan latin Nawaitu sauma yaumal khomiisi sunnatan lillahi ta'ala. Saya niat puasa hari Kamis, sunah karena Allah ta'alaArtinya Saya niat puasa sunnah hari Kamis, sunnah karena Allah TaalaAda beberapa alasan kenapa Rasullah SAW puasa Senin Kamis rutin dan jarang meninggalkannya. Apa saja?Kenapa Rasulullah SAW puasa Senin Kamis?1. Hari dihitungnya amal perbuatanHari Senin dan Kamis merupakan hari dihitungnya amal perbuatan, seperti dikutip dari seperti dikutip dari buku Dahsyatnya Puasa Sunah Kunci Utama Meraih Sukses Dunia dan Akhirat oleh H. Amirullah dan Hj. Lus Nur'aeni Afgani. Karena itu, Rasulullah ingin beribadah puasa sunah di hari Senin dan Kamis, sebagaimaan diriwayatkan dalam hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda,تُعْرَضُ الأَعْمَالُ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِى وَأَنَا صَائِمٌ"Berbagai amalan dihadapkan kepada Allah pada Senin dan Kamis, maka aku suka jika amalanku dihadapkan sementara aku sedang berpuasa." HR. Tirmidzi2. Hari istimewa Rasulullah SAWRasulullah menganggap hari Senin dan Kamis sebagai hari istimewa. Sebab, ia lahir, diutus menjadi rasul, dan diturunkan Al Qur'an pada hari Senin, sebagaimana disampaikan dalam hadits riwayat Muslim, Abu Qatadah berkata,"Rasulullah SAW ditanya tentang puasa di hari Senin. Beliau menjawab, "Hari itu aku dilahirkan, dan hari itu aku diutus, serta Al Qur'an diturunkan padaku." HR. MuslimRasulullah SAW lahir pada tanggal 12 Rabiul Awal di tahun Gajah. Berdasarkan penanggalan Masehi, Nabi Muhammad SAW lahir pada hari Senin, 5 Mei 570 itu, Al Qur'an diturunkan Allah SWT pada manusia melalui tiga tahap. Tahap pertama yakni diturunkan Allah ke Lauh Mahfudz. Tahap kedua yakni dari Lauh Mahfudz ke ke langit dunia, lalu tahap ketiga dari langit ke Rasullah SAW. Wahyu tersebut kemudian disampaikan berangsur-angsur pada ulama berbeda pendapat perihal kapan Al Qur'an diturunkan pertama kali. Namun, sebagian besar ulama sepakat Al Qur'an turun pertama kali pada 17 Ramadhan di hari Senin. Hari turunnya Al Qur'an tersebut merupakan hari pertama Rasulullah SAW mendapat wahyu dari Allah Hari dibukanya pintu-pintu surgaAllah SWT membuka pintu surga di bulan Ramadhan. Selain itu, Allah SWT juga membuka pintu-puntu surga pada hari Senin dan Kamis. Pada dua hari tersebut, dosa-dosa orang-orang mukmin diampuni. Keutamaan ini disampaikan dalam hadits Muslim, dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda,"Pintu-pintu surga dibuka pada hari Senin dan Kamis. Maka,semua hamba yang tidak menyekutukan Allah SWT dengan sesuatu apapun akan diampuni dosa-dosanya, kecuali seorang di antara dia dan saudaranya terjadi permusuhan. Lalu dikatakan, 'Tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai, tundalah pengampunan kedua orang ini sampai keduanya berdamai." kita semua bisa merutinkan puasa Senin Kamis seperti Rasullah SAW, ya, aamiin. Selamat berpuasa! Simak Video "Google Sediakan 11 Ribu Beasiswa Pelatihan untuk Bangun Talenta Digital" [GambasVideo 20detik] twu/row Supayaibadah makin berkah, ikuti tips sahur seperti yang dijalani Rasulullah. 1. Jangan melewatkan sahur. sahur sunah rasulullah Foto: instagram. Makan saat dini hari memang tidak mudah, apalagi saat awal puasa. Tapi Rasulullah menganjurkan untuk makan sahur karena sahur juga masuk sebagai bagian dari ibadah puasa. Puasa adalah karakteristik moral dan spiritual Islam yang unik. Berpuasan Didefinisikan secara harfiah, kata puasa berarti menjauhkan "sepenuhnya" dari makanan, minuman, hubungan intim dan merokok, sebelum fajar hingga matahari terbenam, selama bulan Ramadhan, bulan kesembilan tahun Islam. Tetapi jika kita membatasi makna Puasa Islam hanya pada pengertian literal dari ucapan ini, kita akan keliru. Baca Bulan Suci Ramadhan Pengertian, Hikmah dan Rukun Puasa Ramadhan Ketika Islam memperkenalkan pranata atau institusi yang merupakan salah satu dari rukun Islam ini, agama Islam menanam pohon kebajikan yang tak terbatas dan produk yang tak ternilai. Berikut ini penjelasan tentang pentinnya makna spiritual dari Puasa dalam pengertian Agama Islam Puasa mengajarkan manusia prinsip Cinta yang tulus karena ketika umat Islam melaksanakan ibadah Puasa, dia melakukannya karena cinta yang mendalam kepada Allah. Dan Muslim yang benar-benar mencintai Allah adalah umat yang benar-benar tahu apa itu cinta. Puasa memperlengkapi manusia dengan perasaan kreatif tentang harapan dan pandangan optimis tentang kehidupan; karena ketika dia berpuasa dia berharap untuk menyenangkan Allah dan mencari rahmat-Nya. Puasa menanamkan dalam diri manusia keutamaan sejati dari pengabdian yang efektif, dedikasi yang jujur ​​dan kedekatan dengan Allah SWT; karena ketika dia berpuasa dia melakukannya semata untuk Allah SWT dan hanya demi Dia. Puasa memupuk hati nurani yang sehat dan bijaksana; karena orang yang berpuasa menyimpan puasanya secara rahasia maupun di depan umum. Dalam kata ucapan berpuasa, khususnya, tidak ada otoritas duniawi untuk memeriksa perilaku manusia atau memaksanya untuk menjalankan puasa. Umat Islam menyimpannya untuk menyenangkan Allah dan memuaskan hati nuraninya sendiri dengan setia di tempat umum. Tidak ada cara yang lebih baik untuk menumbuhkan hati nurani yang sehat dalam diri manusia. Puasa Ramadhan mengindoktrinasi manusia dalam kesabaran dan tidak mementingkan diri sendiri, karena melalui puasa, dia merasakan sakitnya kekurangan tetapi dia menanggungnya dengan sabar. Puasa adalah pelajaran efektif dalam penerapan moderasi dan kemauan keras. Berpuasa juga memberi manusia jiwa yang transparan, pikiran jernih, dan tubuh yang ringan. Berpuasa menunjukkan kepada manusia cara baru penghematan yang bijaksana dan penganggaran yang sehat. Berpuasa memungkinkan manusia untuk menguasai seni Kemampuan Beradaptasi dengan Dewasa. Kita dapat dengan mudah memahami intinya begitu kita menyadari bahwa puasa membuat manusia mengubah seluruh jalan hidupnya sehari-hari. Berpuasa alasan manusia dalam disiplin dan kelangsungan hidup yang sehat. Puasa Ramadhan berasal dalam diri manusia roh sejati dari kepemilikan sosial, persatuan dan persaudaraan, kesetaraan di hadapan Allah serta di hadapan hukum. Berpuasa di bulan Ramadhan adalah resep Ilahi untuk jaminan diri dan kontrol diri. Ramadhan merupakan puasa wajib bagi setiap Muslim yang bertanggung jawab dan sehat. Tetapi ada saat-saat lain ketika dianjurkan untuk melakukan puasa sukarela, setelah Tradisi Nabi Muhammad. Di antara waktu-waktu ini adalah hari Senin dan Kamis setiap minggu, beberapa hari setiap bulan dalam dua bulan yang menandai kedatangan Ramadhan, yaitu, bulan Rajab dan bulan sya'ban, enam hari setelah Ramadhan setelah 'Hari Raya Idul Fitri. Selain itu, bagi yang berhalangan puasa dibulan Ramadhan dengan ketentuan yang telah ditetapkan, maka kita harus mengganti puasa setiap hari dalam bulan apa pun sepanjang tahun, kecuali pada Hari Raya Idul Fitri dan Jumat ketika tidak ada Muslim yang boleh berpuasa. Namun, sekali lagi bahwa satu-satunya puasa wajib adalah Ramadhan yang mungkin 29 atau 30 hari, tergantung pada posisi bulan. Puasa Ramadhan adalah rukun Islam, dan apabila tidak melaksanakan nya tanpa alasan yang masuk akal adalah dosa besar di hadapan Allah. Berikut kurikulum pelajarancg Agama Islam dalam menyambut bulan suci Ramadhan untuk pengertian, ketentuan dan rukun puasa Ramadhan. Daftar Isi PENGERTIAN PUASA RAMADHAN? SIAPA YANG HARUS BERPUASA? RUKUN HAL YANG MEMBATALKAN PUASA? HAL YANG MERUSAK PAHALA PUASA? MEMPERBANYAK KEBAIKAN DI BULAN RAMADHAN MANFAAT PUASA RAMADHAN? KESIMPULAN PENGERTIAN PUASA, KETENTUAN DAN MANFAAT PUASA RAMADHAN PENGERTIAN PUASA RAMADHAN? Secara etimologi kata puasa jika dilihat dalam bahasa Arab disebut saum atau siyam, artinya menahan diri dari segala sesuatu, seperti menahan makan, minum, nafsu, dan menahan berbicara yang tidak bermanfaat. Sedangkan puasa menurut ajaran agama Islam artinya menahan diri dari hal-hal yang membatalkannya sejak terbit fajar sampai terbenam matahari, dengan niat dan beberapa syarat. SIAPA YANG HARUS BERPUASA? Puasa Ramadhan adalah wajib bagi setiap Muslim, pria atau wanita, yang telah memenuhi ketentuan-ketentuan atau syarat Syarat wajib puasa Syarat wajib artinya apabila syarat-syarat ini terdapat pada diri seseorang, maka orang tersebut wajib berpuasa, yaitu Berakal sehat. Orang gila/hilang akal tidak wajib berpuasa. Balig atau dewasa. Anak-anak yang belum balig tidak wajib berpuasa. Kuat berpuasa. Orang yang lemah fisik tidak wajib berpuasa. Misalnya lemah karena tua boleh tidak puasa tetapi menggantinya dengan fidyah. Demikian juga orang yang sedang sakit boleh tidak puasa tetapi wajib mengganti puasa dihari lain setelah sembuh. Apakah fidyah itu? Fidyah adalah denda sebagai ganti bagi orang yang tidak mampu melakukan puasa. Caranya adalah memberi makan setiap hari sejumlah hari di mana orang yang bersangkutan tidak berpuasa kepada orang yang fakir atau miskin. Banyaknya satu mud. Satu mud adalah ukuran berat 626 gram. Fidyah bisa berupa beras atau makanan pokok yang mengenyangkan. Syarat sah puasa Syarat sah puasa, artinya apabila syarat ini terdapat pada seseorang maka puasanya sah, yaitu sebagai berikut. Islam, orang yang tidak beragama Islam tidak sah berpuasa. Berakal, orang yang tidak berakal gila atau orang yang dalam keadaan mabuk tidak sah berpuasa. Mumayyiz/Tamyiz, yaitu cerdas dan dapat membedakan antara yang baik dan buruk. Suci dari haid bagi wanita. Orang yang haid tidak sah berpuasa. Adapun nifas adalah kondisi setelah seorang ibu melahirkan. Mereka juga tidak sah berpuasa. Dalam waktu yang diperbolehkan berpuasa bulan Ramadhan. Kita dilarang berpuasa pada dua hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, dan hari Tasyriq, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 bulan Haji. RUKUN Adapun rukun puasa ada dua. Pertama, berniat, yaitu menyengaja puasa Ramadhan. Waktunya setelah matahari terbenam sampai sebelum terbit fajar saddiq. Kedua, menahan dari segala yang dapat membatalkan puasa mulai dari terbit fajar saddiq hingga terbenam matahari. HAL YANG MEMBATALKAN PUASA? Adapun hal-hal yang dapat membatalkan puasa adalah Makan atau minum dengan sengaja. Muntah dengan sengaja Datang bulan/haid atau melahirkan Hilang akal/gila walaupun sebentar Murtad keluar dari agama Islam. HAL YANG MERUSAK PAHALA PUASA? Adapun hal-hal yang dapat merusak pahala puasa adalah apabila seseorang sedang berpuasa, lalu melakukan perbuatan tercela maka rusak atau berkurang pahala ibadah puasanya. Contoh perbuatan tercela adalah berdusta, menghina, menghasut, memfitnah, berkata kotor, berkelahi atau bertengkar, dan sebagainya. Apabila seseorang sedang berpuasa tetapi melakukan perkelahian, maka puasanya tetap sah namun tidak mendapatkan pahala. MEMPERBANYAK KEBAIKAN DI BULAN RAMADHAN Mari memperbanyak kebaikan di bulan Ramadhan. Karena Rasulullah saw. suka berbuat kebaikan. Berikut ini adalah contoh-contoh perbuatan baik yang selalu dilakukan beliau. 1. Salat Tarawih Berjamaah Di Malam Hari Setelah Salat Isya. Setiap malam pada bulan Ramadhan orang-orang dewasa dan anak-anak, laki-laki dan perempuan, berbondong-bondong pergi ke masjid, musallah. Mereka melaksanakan salat tarawih dan witir. 2. Tadarus al-Qur'an Tadarus al-Qur'an artinya membaca al-Qur'an secara tartil dengan tajwid dan makhraj yang benar atau dengan bacaan yang fasih. Selain membaca, ada lagi yang mempelajari isi kandungan al-Qur'an. Tadarus dapat dilaksanakan sendiri-sendiri atau dengan cara bergantian, yaitu salah seorang peserta membaca al-Qur'an sedangkan yang lainnya menyimak atau memperhatikan bacaan tersebut. Ketika dijumpai kesalahan membaca, maka peserta yang lainnya segera membenarkannya sesuai dengan bacaansemestinya. Tidak dibenarkan jika salah seorang membaca al-Qur'an sedangkan yang lainnya asik bercerita di dekat orang yang membaca al-Qur'an tersebut. 3. Memperbanyak Sedekah Bersedekah maksudnya memberikan sesuatu yang bermanfaat kepada orang lain dengan niat ikhlas karena mengharap ridha Allah Swt. Apabila ketentuan-ketentuan diatas dapat dipenuhi, puasa seseorang dapat memberi manfaat dan pasti memperoleh predikat takwa. MANFAAT PUASA RAMADHAN? Mari meraih manfaat ibadah puasa Ramadhan. Manfaat-manfaat orang yang berpuasa terutama puasa Ramadhan sangat banyak, di antaranya hal-hal berikut. 1. Ungkapan Rasa Syukur kepada Allah Swt. Ibadah puasa dan ibadah lainnya merupakan ungkapan rasa syukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah Swt. 2. Melatih Kejujuran Di saat berpuasa, kita menahan lapar dan dahaga, mampu untuk tidak makan dan minum meskipun tidak ada yang melihat. Kita yakin bahwa Allah Swt. Maha Melihat 3. Menanamkan Rasa Kasih Sayang Dengan berpuasa, kita dapat merasakan penderitaan orang lain. Banyak di antara mereka kelaparan dan kehausan. Sesama manusia, kita harus mengasihi dan menyayangi dengan memberikan bantuan agar mereka juga merasakan kebahagiaan. 4. Sehat Jasmani dan Rohani Orang yang berpuasa akan merasakan sehat jasmani dan rohaninya. Rasulullah saw. pernah mengatakan “Puasalah kamu, supaya sehat”. 5. Melatih Kesabaran Pengendalian Diri Ibadah puasa dapat juga membentuk sikap sabar. Sedangkan sabar adalah sikap utama untuk sukses. Contohnya, orang yang ingin sukses dan berprestasi di sekolah harus sabar dalam belajar. Ingin sukses bermain bola harus juga sabar berlatih. Ingin sukses masuk surga sekalipun harus sabar mentaati perintah Allah Swt. Jadi bagi yang ingin sukses di dunia dan akhirat harus menggunakan sikap sabar. Baca BELAJAR BAHASA INGGRIS DAN ARTINYA DARI KATA UCAPAN SELAMAT BERBUKA PUASA RAMADHAN BELAJAR BAHASA INGGRIS DAN ARTINYA DARI KATA UCAPAN SELAMAT BERPUASA RAMADHAN APA ITU BUKA PUASA DAN SAHUR SELAMA BULAN RAMADHAN? KESIMPULAN PENGERTIAN PUASA, KETENTUAN DAN MANFAAT PUASA RAMADHAN Dari penjelasan mengenai pengertian puasa, manfaat dan ketentuan puasa Ramadan untuk pelajaran Agama Islam dari tulisan diatas, beberapa kesimpulan bisa didapa sebagai karakteristik moral dan spiritual Islam adalah Puasa Ramadhan adalah perintah Allah Swt. sebagaimana terdapat dalam al-Qur'an Surah al-Baqarah ayat 183. Berpuasa pada bulan Ramadhan untuk meraih derajat tertinggi, yaitu “takwa”. Puasa memiliki ketentuan-ketentuan, seperti syarat wajib puasa, syarat sah puasa, rukun puasa, dan yang membatalkan puasa. Pada bulan puasa dianjurkan memperbanyak amal ibadah, seperti salat tarawih berjamaah, tadarus al-Qur'an, dan memperbanyak sedekah. Puasa Ramadhan mengandung banyak manfaat, di antaranya ungkapan rasa syukur kepada Allah Swt., melatih kejujuran, menanamkan rasa kasih sayang, sehat jasmani dan rohani, dan melatih kesabaran pengendalian diri. Daftar Pustaka El-Ashi,Arafat, Dr. Fasting in Islam. Muslim World League Canada Office Ghozaly, Feisal dan Ismail, Buchori Achmad. Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti SD/MI KELAS 5 Kurikulum 2013 edisi revisi 2017. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud Orangyang berpuasa akan merasakan sehat jasmani dan rohaninya. Rasulullah saw. pernah mengatakan: "Puasalah kamu, supaya sehat". 5. Melatih Kesabaran (Pengendalian Diri) Ibadah puasa dapat juga membentuk sikap sabar. Sedangkan sabar adalah sikap utama untuk sukses. Contohnya, orang yang ingin sukses dan berprestasi di sekolah harus sabar Jakarta - Penentuan puasa awal Ramadhan ditentukan melalui dua metode. Hal ini dilandasi oleh salah satu hadits yang diriwayatkan dari Rasulullah SAW. Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda,صُوْمُوْا لِرُؤْيَتِهِ وَ أَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوْا شَعْبَانَ ثَلاَثِيْنَArtinya "Berpuasalah kalian dengan melihat hilal dan berbukalah mengakhiri puasa dengan melihat hilal. Bila ia tidak tampak olehmu, maka sempurnakan hitungan Sya'ban menjadi 30 hari," HR Bukhari dan Muslim.Berdasarkan hadits di atas, para ulama menetapkan dua metode untuk menentukan puasa awal Ramadhan. Kedua metode tersebut adalah rukyah atau rukyatul hilal dan ikmal atau lebih lanjut mengenai kedua metode ini dapat disimak pada pemaparan Metode rukyatul hilalSecara bahasa, rukyat bermakna melihat dengan mata dan hilal berarti bulan sabit. Sehingga dapat diartikan dengan metode memantau keberadaan bulan di awal yang berbentuk sabit atau belum terlihat bulat dari awal Ramadhan dengan rukyatul hilal ini merupakan cara yang disyariatkan dalam Islam, sebagaimana Allah SWT pernah berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 185فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُArtinya "Karena itu, barangsiapa di antara kamu menyaksikan di negeri tempat tinggalnya di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan tersebut."Untuk menentukan awal puasa Ramadhan melalui rukyatul hilal, menurut Penyuluh Agama Nandang Syukur, harus dilakukan dengan rukyah. Rukyah ini maksudnya adalah melihat bulan langsung dengan mata telanjang sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW."Menentukan awal Ramadhan dengan hilal adalah bukan dengan cara hisab. Namun yang lebih tepat dan sesuai dengan petunjuk Nabi SAW dalam mengenal hilal adalah dengan rukyah," kata Nandang melalui laman Kementerian Agama Jawa Barat dan dikutip detikEdu, Jumat 28/1/2022.Konsep awal Ramadhan menurut rukyatul hilal ini adalah hilal yang sudah terlihat di tanggal 29 Sya'ban, sesaat setelah terbenamnya matahari. Seperti halnya yang pernah diterapkan oleh Rasulullah, beliau bersabda,إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ ، لاَ نَكْتُبُ وَلاَ نَحْسِبُ ,الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَاArtinya "Sesungguhnya kami adalah umat ummiyah. Kami tidak mengenal kitabah tulis-menulis dan tidak pula mengenal hisab. Bulan itu seperti ini beliau berisyarat dengan bilangan 29 dan seperti ini beliau berisyarat dengan bilangan 30," HR Bukhari dan MuslimB. IkmalSelanjutnya, penentuan awal puasa Ramadhan dilakukan melalui metode ikmal atau istikmal. Metode inilah yang digunakan bila malam ke-29 Sya'ban, hilal juga masih belum terlihat karena terhalang awan atau ini juga disinggung dalam hadits Rasulullah yang dijelaskan sebelumnya. Konsep dari metode ikmal pada dasarnya adalah menggenapkan hitungan bulan menjadi 30 hari, seperti yang dikutip dari buku Bekal Ramadhan oleh Ahmad Zarkasih."Ikmal atau istikmal adalah menggenapkan hitungan bulan menjadi 30 hari, pada saat hilal tidak nampak di tanggal 29 Sya'ban itu," tulis buku metode awal Ramadhan ini, seorang ulama Syafi'i yang bernama Al Mawardi pernah berpendapat. Ia menyebut, Allah SWT jalan tengah dari keragu-raguan antara tanggal 29 dan 30 yakni dengan mengambil keputusan hari ke-30 sebagai awal bulan."Karena Allah Ta'ala menetapkan bulan tidak pernah lebih dari 30 hari dan tidak pernah kurang dari 29 hari. Jika terjadi keragu-raguan pada hari ke-29, maka berpeganglah dengan yang yakin yaitu hari ke-30 dan buang jauh-jauh keraguan yang ada." kata Al Mawardi, dilansir dari laman Kementerian Agama Jawa metode penentuan puasa awal Ramadhan sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Semoga bermanfaat! Simak Video "Kurma Episode 22 Mudahnya Meraih Pahala di Bulan Ramadhan" [GambasVideo 20detik] rah/row Unpad.ac.id, 8/08/2013] Rasul Muhammad SAW pernah bersabda, "Berpuasalah Kamu, Niscaya Kamu Akan Sehat". Perkataan rasulullah yang disampaikan 14 abad yang lalu itu ternyata terbukti dalam kajian ilmiah kesehatan modern saat ini. Puasa dapat memperbaiki metabolisme tubuh, puasa juga dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh manusia.
loading...Ada beberapa alasan mengapa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam sering melakukan puasa Senin-Kamis., salah satunya karena hari Senin merupakan hari kelahiran Beliau. Foto ilustrasi/ist Hari Senin dan Kamis bagi umat Islam adalah waktu untuk mengamalkan puasa sunnah. Puasa ini juga merupakan kebiasaan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Mengapa puasa ini sangat dianjurkan? Apa alasan Rasulullah sering melakukannya? Hadis yang mengabarkan tentang puasa Senin-Kamis diceritakan ibunda Aisyah radhiallahu ta’ala anha, ia berkata كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى صَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَالخَمِيسِ“Adalah Rasulullah shallallahu alahi wasallam itu, bersemangat untuk berpuasa hari senin dan kamis” Baca Juga Lantas apa alasannya? Ustadz Ratno, Lc, alumni Universitas Islam Madinah Jurusan Hadits menjelaskan, ada beberapa alasan mengapa Baginda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam sering melakukan puasa Senin-Kamis . Pertama, karena hari Senin merupakan hari kelahiran beliau, dan kita tahu, bahwa beliau adalah rahmat bagi alam hari itu juga, beliau shallallahu alaihi wa sallam diangkat menjadi rasul. Beliau pernah ditanya, tentang puasa hari senin, sebagaimana dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, beliau pun menjawabذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ، وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيهِ“Hari senin merupakan hari kelahiranku, Hari senin juga merupakan hari pengutusanku sebagai rasul, atau hari pertama diturunkan Al-Qur’an”HR MuslimKetiga, hari Senin dan Kamis adalah hari dimana amalan diangkat dan dihadapkan kepada Allah. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda إن أعمالَ الناسِ تُعرَضُ يومَ الاثنين ويومَ الخميس“Amalam manusia dihadapkan kepada Allah pada hari Senin dan Kamis”Dan Nabi shallallahu alaihi wa sallam itu sangat senang, bisa berpuasa, saat amalannya dihadapkan kepada Allah, Beliau bersabda تُعْرَضُ الأَعْمَالُ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَالخَمِيسِ، فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ“Amalan dihadapkan kepada Allah pada hari senin dan kamis, dan aku senang, saat amalanku dihadapkan kepada Allah aku dalam keadaan puasa”Keempat, adalah karena pada hari senin dan kamis pintu surga adalah hari dimana dosa-dosa seorang mukmin diampuni. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabdaتُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْإِثْنَيْنِ، وَيَوْمَ الْخَمِيسِ، فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لَا يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا، إِلَّا رَجُلًا كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ، فَيُقَالُ أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا، أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا، أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا“Sesungguhnya pintu-pintu surga dibuka pada hari Senin dan kamis. Semua dosa hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu akan diampuni, kecuali bagi orang yang antara dia dan saudaranya terdapat kebencian dan perpecahan.”Lalu dikatakan “Tangguhkanlah dua orang ini hingga mereka berdamai! Tangguhkanlah dua orang ini hingga mereka berdamai! Tangguhkanlah kedua orang ini hingga mereka berdamai!” Baca Juga
1tulang sumsum berukuran besar. Read more resep pancake tanpa baking powder 1.195 resep bumbu bakso bakar enak dan sederhana ala Walaupun mudah dicari, bukan berati kita tidak perlu membuat sendiri dirumah lho, karena selain lebih enak dan lebih terjamin kebersihannya, cara membuat tahu bakso tidaklah sulit. Resep bakso enak untuk jualan.

Jakarta - Puasa Senin Kamis adalah salah satu puasa sunah yang sering dikerjakan Rasulullah SAW. Rupanya, ada beberapa alasan Rasullah SAW menjalankan puasa Senin Senin Kamis merupakan puasa sunah yang dilaksanakan pada hari Senin dan Kamis. Waktu, adab, dan tata cara puasa Senin Kamis tidak jauh berbeda dengan puasa di bulan suci Ramadhan, seperti dikutip dari Buku Pintar Puasa Wajib dan Sunnah oleh Nur keutamaan dan alasan Rasulullah SAW rajin melakukan puasa Senin Rasulullah SAW puasa Senin Kamis1. Hari turunnya Al Qur'anDalam pandangan Rasulullah, puasa Senin dan Kamis merupakan puasa yang punya keutamaan dan dilaksanakan di hari istimewa, seperti dikutip dari buku Dahsyatnya Puasa Sunah Kunci Utama Meraih Sukses Dunia dan Akhirat oleh H. Amirullah dan Hj. Lus Nur'aeni satu hari istimewa tersebut yakni hari turunnya Al Qur'an, yang juga menjadi hari pertama Rasullah SAW menerima wahyu dari Allah Qur'an diturunkan Allah SWT pada manusia melalui tiga tahapan, yaitu dari Allah ke Lauh Mahfudz, lalu ke langit dunia, dan ke Rasullah SAW yang disampaikan berangsur-angsur pada manusia. Beberapa ulama memiliki pendapat berbeda tentang kapan pertama kali Al Qur'an diturunkan. Namun, sebagian besar ulama sepakat Al Qur'an turun pertama kali pada 17 Ramadhan di hari Hari kelahiran Rasulullah SAWRasulullah SAW lahir pada tanggal 12 Rabiul Awal di tahun Gajah. Berdasarkan penanggalan Masehi, Nabi Muhammad SAW lahir pada hari Senin, 5 Mei 570 M. Rasulullah berpuasa di tiap hari ia dilahirkan, seperti yang disampaikan dalam hadits riwayat Muslim,"Abu Qatadah berkata, "Rasulullah SAW ditanya tentang puasa di hari Senin. Beliau menjawab, "Hari itu aku dilahirkan, dan hari itu aku diutus, serta Al Qur'an diturunkan padaku." HR. Muslim3. Hari amal perbuatan diperiksaRasulullah SAW juga menyambut hari diperiksanya amal perbuatan manusia dengan beribadah sunnah puasa Senin Kamis, seperti disampaikan dalam hadits riwayat Tirmidzi bahwa Rasulullah bersabda,"Amal perbuatan itu diperiksa setiap hari Senin dan Kamis, maka aku suka diperiksa amalku ketika sedang berpuasa." HR. Tirmidzi4. Pintu surga dibuka pada hari Senin dan KamisKeutamaan dan keberkahan hari Senin dan Kamis yaitu dibukanya pintu-pintu surga pada dua hari tersebut. Saat itu, orang-orang mukmid diampuni, kecuali orang mukmin yang sedang bermusuhan. Keutamaan ini terdapat dalam hadits Muslim, dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda,"Pintu-pintu surga dibuka pada hari Senin dan Kamis. Maka,semua hamba yang tidak menyekutukan Allah SWT dengan sesuatu apapun akan diampuni dosa-dosanya, kecuali seorang di antara dia dan saudaranya terjadi permusuhan. Lalu dikatakan, 'Tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai, tundalah pengampunan kedua orang ini sampai keduanya berdamai." mulai rutinkan ibadah puasa Senin Kamis kita seperti Rasullah SAW. Semoga keutamaan dan keberkahannya menghampiri kita, aamiin. Simak Video "Permintaan Maaf Wanita Simpan Al-Qur'an Dekat Sesajen-Akui Tertarik Islam" [GambasVideo 20detik] twu/lus

.
  • 0z9esuawyy.pages.dev/189
  • 0z9esuawyy.pages.dev/212
  • 0z9esuawyy.pages.dev/463
  • 0z9esuawyy.pages.dev/470
  • 0z9esuawyy.pages.dev/53
  • 0z9esuawyy.pages.dev/451
  • 0z9esuawyy.pages.dev/376
  • 0z9esuawyy.pages.dev/493
  • rasulullah pernah mengatakan puasalah kamu supaya